Perusahaan Sukanto Tanoto Meraih Sertifikasi ISPO 100%

  • Whatsapp
Sukanto Tanoto

Sumber Foto: Infosawit.com

https://www.infosawit.com/news/8921/seluruh-unit-bisnis-asian-agri-berlabel-ispo-sawit

Pengusaha Sukanto Tanoto menaruh kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Hal itu membuat perusahaannya selalu berupaya melakukan praktik operasional ramah alam. Ini dibuktikan secara nyata oleh Asian Agri yang berhasil meraih Sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) secara penuh.

Asian Agri merupakan satu dari delapan perusahaan di bawah naungan Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikan oleh Sukanto Tanoto. Mereka bergerak di sektor kelapa sawit dan menjadi salah satu pemain terbesar di industrinya di level Asia.

Kapasitas produksi Asian Agri terbilang tinggi. Mereka mampu menghasilkan Crude Palm Oil (CPO) hingga 1,2 metrik ton per tahun. Hal itu bisa diperoleh dari pengelolaan perkebunan seluas 100 ribu hektar yang menghasilkan bahan baku berkelanjutan.

Bersamaan dengan itu, Asian Agri juga menjalin kemitraan dengan para petani kelapa sawit. Dengan sistem Plasma Inti, kerja sama tersebut mencakup lahan seluas 60 ribu hektar. Sedangkan kolaborasi serupa dengan petani swadaya membawahi perkebunan seluas 41 ribu hektar.

Dalam mengelola perkebunan, Asian Agri selalu menjalankan arahan pendirinya, Sukanto Tanoto. Ia mewajibkan agar operasional perusahaan memberi dampak seminimal mungkin terhadap lingkungan. Bukan hanya itu, perusahaan juga harus bermanfaat bagi kelestarian alam.

Akibatnya Asian Agri selalu memegang prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan perkebunan. Ini dibuktikan dengan banyak hal. Salah satunya raihan sertifikasi ISPO.

Pada April 2019, pencapaian apik ditorehkan oleh Asian Agri. Seluruh anak usahanya dipastikan sudah meraih Sertifikat ISPO seratus persen. Hal itu sesudah unit bisnisnya, PT Indo Sepadan Jaya dan PT Rantau Sinar Karsa, memperoleh sertifikat tersebut pada bulan tersebut.

“Kami berkomitmen penuh dalam pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan, dengan menerapkan praktik-praktik terbaik di seluruh kegiatan operasional perusahaan baik di perkebunan maupun di pabrik kami secara konsisten. Komitmen yang sama juga kami terapkan kepada para petani mitra perusahaan,” kata Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard Riedo di SawitIndonesia.com.

Pencapaian ini patut mendapat apresiasi. Pasalnya, Asian Agri baru mulai mendapatkan Sertifikat ISPO sejak 2013. Namun, hanya dalam enam tahun sesudahnya, semua unit usahanya dipastikan mengantongi tanda praktik berkelanjutan di industri kelapa sawit Indonesia tersebut.

Bukan hanya itu, Asian Agri juga berkontribusi menularkan semangat keberlanjutan kepada para petani. Terbukti mereka mampu mengantarkan mitra petani swadaya, Asosiasi Amanah Riau, menjadi petani swadaya pertama yang meraih Sertifikat ISPO.

ISPO merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam menggapai industri kelapa sawit berkelanjutan di dalam negeri. Pemerintah mulai menghadirkannya sejak tahun 2009. Melalui pemberian sertifikat ini, para pelaku bisnis kelapa sawit didorong untuk menjaga operasionalnya selalu baik dan bertanggung jawab kepada alam.

Kehadiran ISPO berawal dari  tuntutan publik terhadap produk kelapa sawit supaya berasal dari proses berkelanjutan. Pasar kini menginginkan kepastian bahwa produknya benar-benar diproduksi dengan bertanggung jawab kepada alam dan masyarakat.

Tanpa sertifikasi tanda keberlanjutan seperti ISPO, produk kelapa sawit tidak akan bisa diterima di pasar domestik dan internasional. “Kita semua harus bangga dengan ISPO dan menghargai sertifikasi ini. Karena kalau masih ada di antara kita ragu dan tidak yakin dengan ISPO, maka jangan harapkan orang lain akan bangga dengan ISPO agar dunia internasional juga menghargai ISPO,” kata Direktorat Jendral Perkebunan Ir Bambang MM di Tribunnews.com.

Hingga saat ini jumlah sertifikat ISPO yang diterbitkan sudah mencapai 502 sertifikat. Dari jumlah itu, 493 di antaranya diraih perusahaan. Namun ada lima koperasi swadaya dan empat KUD plasma yang ikut meraihnya. Sampai sekarang sertifikasi ISPO mencapai luas total area 4.115.434 hektar.

PRAKTIK RAMAH LINGKUNGAN

PRAKTIK RAMAH LINGKUNGAN

Sumber foto: Asian Agri

https://www.asianagri.com/images/articles/penciptaan-nilai-bersama/lingkungan-03.png

Keberlanjutan sudah menjadi bagian dari operasional keseharian Asian Agri. Dalam mengelola perkebunan maupun pabrik, mereka memiliki komitmen tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Asian Agri menjalankan sejumlah langkah yang menunjang prinsip keberlanjutan. Pertama mereka tidak melakukan praktik deforestasi. Ini artinya perusahaan Sukanto Tanoto ini tidak membuka lahan perkebunan baru dari hutan alam.

Untuk melakukannya, Asian Agri berkomitmen untuk segera menerapkan moratorium pembukaan hutan. Mereka menjalankan kajian identifikasi area yang mengandung nilai konservasi tinggi dan area yang memiliki stok karbon tinggi. Sesudah menemukannya, area tersebut dijaga supaya tetap lestari.

Sejalan dengan arahan Sukanto Tanoto, Asian Agri selalu memandang kelestarian alam sebagai hal penting. Banyak hal yang mereka lakukan sehingga mampu meraih sertifikat tanda keberlanjutan seperti ISPO.

Pertama, Asian Agri menerapkan kebijakan antideforestasi. Mereka tidak membuka lahan baru untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi. Perusahaan Sukanto Tanoto ini memilih mengoptimalkan lahan perkebunan yang dimiliki.

Selain itu, Asian Agri konsisten melakukan perlindungan lahan gambut. Hal tersebut penting mengingat lahan gambut bisa berubah dari penyimpan karbon menjadi pelepas karbon dalam jumlah besar jika tidak dilindungi.

Untuk melakukan perlindungan lahan gambut, Asian Agri menjalankan kajian identifikasi dan pemetaan lahan gambut. Area yang masih memiliki nilai tinggi kemudian dijaga dan dikonservasi.

Asian Agri juga tidak melupakan kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya. Langkah tersebut diperlukan karena kerusakan alam sering kali dipicu oleh tangan-tangan manusia. Karena terdesak oleh tuntutan ekonomi, masyarakat bisa merambah hutan.

Oleh sebab itu, sebagai bagian dari praktik keberlanjutan yang dijalankannya, Asian Agri gencar memetakan konflik sosial. Ini juga merupakan praktik nyata dari arahan Sukanto Tanoto agar perusahaan berkontribusi positif kepada masyarakat.

Langkah-langkah tersebut digabungkan dengan praktik perkebunan terbaik. Tak mengherankan Asian Agri mampu meraih sertifikat ISPO. Namun, selain ISPO, ada banyak sertifikat tanda keberlanjutan lain yang diperoleh oleh Asian Agri.

Pertama adalah Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO). Asian Agri sudah menjadi anggota RSPO sejak 2006. Hal ini tidak sembarangan karena RSPO merupakan sebuah standar sertifikasi global yang dikembangkan oleh para pemangku kepentingan demi tata kelola perkebunan sawit lestari.

Sertifikasi RSPO pertama yang diraih Asian Agri hadir pada 2010 untuk perkebunannya. Dua tahun berselang, para petani plasma yang menjadi mitra mendapatkannya. Lalu, pada tahun 2013, perusahaan Sukanto Tanoto ini berhasil membina petani swadaya mitra dalam memperoleh sertifikat RSPO pertama bagi petani swadaya di Indonesia.

Selain RSPO, Asian Agri juga sudah meraih sertifikat International Sustainability & Carbon Certification (ISCC). Ini adalah sistem sertifikasi global lainnya yang mencakup tanaman pertanian, produk turunan dan terbarukan.

Sertifikasi ISCC pertama diterima Asian Agri pada tahun 2011. Namun, pada tahun 2014, seluruh pabrik, perkebunan inti, dan perkebunan pertani telah bersertifikat ISCC.

Keberhasilan tersebut menandakan bahwa Asian Agri benar-benar berkomitmen nyata dalam menjaga praktik produksi kelapa sawit berkelanjutan. Hal ini menjadi perwujudan nyata arahan Sukanto Tanoto yang ingin perusahaannya berkontribusi dalam menjaga keseimbangan iklim.

Related posts