Langkah-langkah Dalam Menulis Buku Non Fiksi

  • Whatsapp

Dari sekian buku-buku solo maupun kolaborasi yang saya tulis, ternyata lebih banyak buku-buku nonfiksi. Sepertinya saya lebih mudah menulis Buku Non Fiksi daripada fiksi. Sedangkan beberapa teman saya ternyata lebih mengalir menulis kisah fiksi. Alasannya, gampang, tinggal ngarang. Walaupun saya yakin, menulis fiksi bukan melulu soal ngarang, pastinya ada panduan dan ketentuannya.

Saya kesulitan mencari kata-kata untuk menulis fiksi, walaupun hanya setingkat cerpen atau dongeng anak. Mana yang lebih mudah, apakah nonfiksi atau fiksi. Menurut saya tergantung minat si Penulisnya.

Penulisan nonfiksi sendiri banyak ragamnya. Karya ilmiah, laporan penelitian, skripsi hingga disertasi termasuk dalam karya nonfiksi. Begitu pula artikel, opini, kritik, biografi, buku ketrampilan hingga buku resep termasuk karya nonfiksi juga.

Pada dasarnya tulisan nonfiksi adalah karya yang berdasarkan fakta. Oleh sebab itu dalam penulisannya tidak boleh sembarangan dan ngarang-ngarang.

Karena buku nonfiksi yang saya tulis tujuannya adalah sebagai buku populer, tentunya ada gaya penulisan yang berbeda dengan ketika kita menulis buku karya ilmiah.

Langkah-langkah Mulai Menulis Buku Nonfiksi

1. Tema dan Ide

Mana yang lebih dahulu, tema atau ide? Kadang-kadang ide terlebih dahulu. Bisa jadi minat pada tema penulisan tertentu yang mengarah untuk menggali ide lebih dalam.

Beberapa tema yang bisa diangkat untuk penulisan adalah: Parenting, Pendidikan, Karier, Motivasi dan Kisah Inspiratif. Kemudian, tema Psikologi, Traveling, Bisnis dan Keuangan. Sekarang berkembang pula buku-buku dengan tema Kesehatan dan Resep-resep.

Tema yang dipilih sebaiknya tema yang betul-betul dikuasai. Karena akan lebih mudah menulis yang dikuasai daripada menulis hal sama sekali baru. Itu sebabnya buku yang saya tulis seputaran parenting, arsitektur, senirupa, interior, piano, dan kesehatan. Karena sehari-hari dunia saya sekitar itu.

2. Membandingkan Buku Sejenis

Bila sudah menentukan tema yang diminati. Misalnya tema Parenting. Maka segeralah ke toko buku terdekat untuk menggali tema Parenting seperti apa yang akan ditulis. Parenting atau pola pengasuhan anak, tergantung usia. Buku untuk usia balita, usia pra remaja, remaja, dan dewasa muda akan sangat berbeda penulisannya.

Minimal 5 atau 6 buku parenting harus dibaca terlebih dahulu. Dari sana, tentukan apa yang akan kita tulis. Sebaiknya kita bisa mengisi atau menulis sesuatu yang baru, di buku lain belum ada. Untuk brainstorming, tulislah 25 hingga 30 alternatif judul atau tema bayangan. Pilih, dan persempit menjadi 5 tema bayangan.

Jangan lupa, sejak awal kita harus menentukan target pasar buku yang akan ditulis. Artinya buku tersebut akan dibaca oleh pembaca dewasa, remaja, kelompok gender tertentu, atau anak-anak. Hal ini penting, karena berkaitan dengan gaya penulisan.

3. Sumber Pustaka

Sebelum menulis, biasakan banyak membaca. Kemudian cantumkan sumber pustaka sebagai penguat. Ibaratnya segala sesuatu yang kita tulis di buku merupakan hasil penelitian sederhana. Tidak dilarang mencari sumber referensi dari internet. Tetapi editor akan selalu meminta sumber referensi dari buku dan atau e-book.

4. Membuat Mind Mapping

Saya terbisa membuat mind mapping sebelum membuat kerangka penulisan. Melalui mind mapping saya dapat bebas mengembara mencari pokok pembasaan yang akan saya tulis. Banyak contoh dan buku khusus tentang mindmapping ini.

5. Gaya Menulis

Setiap penulis mempunyai gaya dalam menulis. Memang perlu waktu, tetapi bukannya tidak mungkin. Gaya bahasa juga penting dalam menulis buku nonfiksi populer. Lebih disukai adalah gaya bahasa yang ringan, mengalir, dan tidak menggurui. Apabila menulis buku untuk remaja atau golongan pembaca yang lebih muda, dapat memakai kata sapa sesekali.